Sat-jakarta.com – Hal yang perlu kita ubah pertama kali adalah cara kita memuji si kecil. Mengapresiasi saat si kecil baru pertama kali berhasil melakukan suatu hal baru adalah wajar dan sangat diperbolehkan. Namun, ketika ia melakukan untuk kedua kali dan seterusnya, cukup bersikap biasa saja, tak perlu heboh memujinya setinggi langit.

Baca juga : Kerja di Jepang jalur mandiri

Berikut beberapa contohnya. ¦ Jika apa yang ia lakukan membantu kita, katakan saja terima kasih. ¦ Jika ia berhasil memakai baju sendiri, cukup katakan, “Mulai besok Kakak bisa ya pakai baju sendiri, Mama tidak usah bantu lagi.” ¦ Ketika ia berani mencoba sesuatu yang baru, pujilah keberaniannya secara spesifi k, “Wah, Kakak berani naik perahu kayuh sendiri,” bukan hanya dengan label ‘pintar’ atau ‘hebat.’ ¦ Ketika sedang berbincang dengan orang lain (teman, rekan kerja, guru anak, tetangga, dan lainnya), berusahalah untuk tidak terlalu memuji anak secara berlebihan.

Tanpa kita sadari, memuji berlebih di area publik akan membuat anak merasa terbebani. ¦ Saat anak merasa hasil kerjanya tak sebaik yang diharapkan, katakan sambil memeluknya, “Papa lihat ini sudah lebih baik dari yang sebelumnya. Kamu sudah berusaha keras.” Fokuslah pada sisi positifnya dan jangan pernah membandingkan anak dengan anak lain, tetapi bandingkan dengan diri anak sendiri, seperti pencapaian dia sebelumnya.

¦ Coba sampaikan apresiasi lewat bahasa non-verbal, seperti senyuman, pelukan, tepukan di bahu, dan seterusnya. Hal kecil seperti ini kadang lebih mengena dan membuat anak merasa dihargai. Pendek kata, berusahalah memuji usaha yang dilakukan anak, bukan melabeli perilakunya apakah itu baik atau buruk. Selain itu, sempatkan diri untuk selalu menanyakan pendapat anak tentang situasi yang sedang atau baru saja dihadapinya.

Karena kita harus mengetahui konsep berpikir anak, sehingga kita dapat lebih mudah menjelaskan sesuatu sesuai dengan apa yang dipahami oleh anak. Maka, kita perlu rasional dalam mendidik anak, dan berikanlah kasih sayang yang bertanggung jawab terhadap masa depannya kelak. Dengan demikian, anak tahu bahwa ia tak harus terus menerus-membuat kita terkesan dan mengharapkan pujian dari kita, karena kita akan menerima diri anak apa adanya, dalam berbagai situasi dan kondisi, baik maupun buruk.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *