Akhir dari Booming Tablet ala autotrade gold

Inovasi terkini, terlalu sedikitnya pangsa pasar dan bermunculannya kelas perangkat lain menjadi akhir popularitas tablet. Pada sebuah pameran setahun yang lalu, seorang manager produksi yang tidak mau disebutkan na manya memperkenalkan tablet baru produksi perusahaannya.”Tablet ini kecil, handy dan tampak elok. Harga terjangkau hanya 200 Euro. Tabletmahal sudah tidak berguna lagi,“ katanya. ”Pasar sudah jenuh“. Satu tahun kemudian, Lembaga Pengamat Pasar, Gartner membenarkan pernyataan tersebut.

Prediksi tentang tablet pun bermunculan. Pasar tablet 2015 akan tumbuh hanya sekitar 19 % dari prediksi 25 %. Ini berarti hingga akhir 2015 produk Apple, Samsung, Acer dan lainnya akan terjual 75 juta unit dan pada akhir tahun 2018 perusahaan-perusahaan tablet hanya akan menjual 155 juta unit produknya, kurang dari yang diprediksikan. Barangkali ramalan tersebut terlalu optimis, Namun Apple sendiri, sang penguasa pasar tablet, berusaha lebih keras atas merosotnya penjualan produk tabletnya. Sejak awal tahun, catatan angka penjualan iPhone terus naik. Sedangkan penjualan iPad turun secara kontinyu dibandingkan tahun lalu.

Titik kulminasi setelah 4 tahun

Apa yang terjadi dengan perangkat yang menjadi primadona beberapa tahun lalu? Ipad pertama yang diperkenalkan tahun 2010 booming. Tablet pun berubah menjadi perangkat penting. Tapi bagaimana saat ini? Menurut Gartner, tablet, cabang bisnis yang satu ini sedang menderita. Pasalnya pelanggan tidak meng-upgrade tabletnya dengan model atau versi yang baru. Dengan siklus hidup 3 tahunan, seharusnya pasar tablet tumbuh. Namun saat ini kemungkinannya tersebut kecil. Lihat saja bagaimana orang lebih memilih iPad 2 dibanding iPad Air 2. Pelanggan merasa bahwa iPad 2 modelnya masih lebih bagus dibanding iPad Air 2.

Persaingan dengan perangkat lain juga memberi dampak pada merosotnya penjualan iPad. ”Tablet hanyalah perangkat tambahan,” kata Gabriel Willigens dari Toshiba Jerman. Sering kali konsumen membeli tablet meski ia sudah memiliki smartphone dan notebook. Namun masalah utamanya adalah update teknologi baru dari tablet dirasakan lambat. Inilah yang membuat para penggunanya beralih ke phablet atau notebook dengan layar sentuh. Akhir-akhir ini Gartner membuat kategori produk baru yaitu ultramobile premium, sebuah perangkat seperti notebook yang juga menawarkan fungsi tablet. Perangkat semacam ini lebih dikenal dengan sebutan notebook 2 in 1 atau convertible laptop.

Thilo Huys dari Lenovo percaya bahwa notebook 2 in 1 akan menjadi pesaing utama tablet. Ia berpendapat bahwa keyboard seperti pada notebook masih sangat dibutuhkan, khususnya mereka para pekerja. Saat ini notebook dapat bersaing dengan tablet dalam hal bobot dan mobilitas. “Ada banyak perkembangan yang terjadi beberapa tahun belakangan ini,” kata Wilfred Thom, pimpinan Acer untuk wilayah Eropa. “Sekarang kami mempuyai perangkat yang lebih tipis dan ringan dengan display yang lebih baik serta daya tahan baterai yang lama. Suatu kelebihan yang pernah dimiliki tablet beberapa tahun lalu,” tambahnya.

Sumber  : autotradegold.space

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *