Akhirnya kami memutuskan mencari second opinion kepada dokter lain. Atas referensi teman, kami mendatangi dokter kandungan yang berpraktik di daerah Pluit. Setelah menceritakan bahwa kami sudah berhubungan intim di masa subur, dokter tersebut pun punya pendapat sama, menganjurkan kami melakukan inseminasi atau bayi tabung.

“ lowongan kerja perawat FSJ Jerman untuk lulusan SMA “ sat-jakarta

Tak berapa lama berkonsultasi, kami pindah ke dokter ketiga yang berpraktik di RS Cipto Mangunkusumo. Setelah melakukan berbagai pemeriksaan yang terkait organ reproduksi, juga memperbaiki pola hidup sehat, kami memutuskan melakukan inseminasi. Sayangnya, pembuahan buatan ini tak berhasil. Tentu kami kecewa, tetapi kami sadar bahwa Allah SWT mungkin belum mengizinkan, sehingga kami harus terus berusaha.

Kami tidak menyalahkan dokter, karena sebelumnya sudah diberitahu persentase keberhasilan inseminasi, bisa berhasil dan bisa tidak. Namun, dokter tetap memberi semangat kepada kami untuk terus berusaha. Dia meminta kami untuk memperbaiki pola hidup lebih sehat seperti: berolahraga, istirahat cukup, menghindari stres, menghentikan kebiasaan merokok, dan selalu berdoa.

Sempat Pengobatan Alternatif

Sebenarnya, usaha mendapat kehamilan tak hanya kami lakukan dengan dokter. Kami juga berkonsultasi ke ahli pengobatan alternatif. Banyak yang sudah kami lakukan, misalnya, pijat di area perut, pijat refleksi, minum kuning telur, minum madu dan mentimun, bahkan jamu yang sangat pahit pun kami minum demi kehadiran buah hati.

Bahkan, permintaan agak aneh dari seorang ahli pengobatan alternatif pun kami lakukan, yaitu meminum kuning telur setiap jam 12 siang. Pokoknya, setiap saran dari teman dan bukti keberhasilannya ada, kami berusaha mendatangi dan menjalani pengobatannya. Akan tetapi, pengobatan alternatifnya hanya sebentar, selain ragu-ragu, juga menjalaninya sangat berat. Minum jamu, misalnya, rasanya yang sangat pahit membuat kami tak sanggup.

Pijat refleksi pun demikian, sangat sakit dan kami tidak kuat meneruskannya. Akhirnya, kami kembali melakukan pengobatan ke dokter yang berbeda dari sebelumsebelumnya. Kami harus terus berusaha sampai buah hati hadir di tengah-tengah kami. Dokter keempat melakukkan pemeriksaan dalam. Hasil diagnosis menunjukkan, di masa subur, endometriumnya tidak cukup tebal sehingga ovum yang sudah dibuahi sulit menempel. Endometrium adalah lapisan terdalam pada rahim, tempat menempelnya ovum yang telah dibuahi.

postingan sebelumnya : http://operacijatrijumf.net/2021/07/27/tak-pernah-lelah-menanti-buah-hati/

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *