Categories
Rumah

Rumah Murah Pemerintah sudah dilengkapi Genset Yanmar Lho

Rumah Murah Pemerintah sudah dilengkapi Genset Yanmar Lho – S emakin maju sebuah kawasan perkotaan, tak lantas menjamin semakin meningkat pula kemampuan ekonomi masyarakatnya. Terbukti, di kota-kota besar di Indonesia masih banyak masyarakat yang kesulitan mendapatkan rumah layak huni degan harga terjangkau. Sekalipun beberapa orang memiliki tanah sebagai lahan tinggal, belum tentu mereka memiliki cukup biaya untuk membangun rumah di atasnya. Harga bahan baku yang cukup mahal tentu menjadi kendala utama. Hal inilah yang menjadi salah satu faktor meningkatnya kebutuhan rumah nasional sejak tahun 2004 hingga saat ini. Berlandaskan hal tersebut, Puslitbang Permukiman mencetuskan sebuah solusi teknologi rumah instan. Teknologi yang kemudian dinamakan RISHA (Rumah Instan Sederhana Sehat) ini didaftarkan kepada Direktorat Jenderal HK pada 20 Desember 2004. Pada awalnya RISHA diperuntukkan menjawab kebutuhan rumah nasional yang pada tahun tersebut mencapai 800.000 unit per tahun.

Disertai oleh backlog rumah mencapai 5,6 juta unit rumah, dan lebih dari 70%-nya adalah rumah bagi masyarakat berpenghasilan rendah ke bawah. Menurut Badan Pusat Statistik dan Kementerian Perumahan Rakyat, saat ini jumlah backlog telah menembus angka 12,5 juta. Berarti, dalam 10 tahun telah muncul peningkatan lebih dari 100%. Lantas, apa sebenarnya RISHA itu? Arief Sabaruddin, Koordinator Pengembangan Rumah Instan Balitbang Kimpraswil, menjelaskan bahwa RISHA merupakan rumah rakitan yang mengacu pada konsep bongkar pasang (knock down). Dengan sistem bongkar pasang ini, mendirikan RISHA terbilang jauh lebih cepat dibanding mendirikan rumah konvensional.

Mudah dan Murah

RISHA memiliki 2 kelebihan utama yang menjadi andalan Kementerian PU. Yang pertama, RISHA dikategorikan sebagai recommended prototype untuk daerah rawan gempa. Hal ini membuktikan bahwa RISHA memiliki konstruksi dan material yang begitu kuat, hingga cocok untuk daerah rawan gempa sekalipun. Yang kedua, harganya murah. Untuk satu unit RISHA tipe maisonet seluas 36 m² dibanderol dengan harga Rp 54 juta. Sedangkan untuk bangunan 1 lantai berada pada kisaran Rp 46 juta per luas 36 m². Arief turut menjelaskan, ketika konsumen telah membeli 1 unit RISHA, konsumen dapat mengolah kembali rumah instan tersebut sesuai yang diinginkan.

Karena desain komponen RISHA menggunakan pendekatan LEGO, konsumen dapat merakit kembali unit rumah tersebut dengan mudah. Komponen RISHA dapat dibuka dan bahkan diubah dengan bahan yang sama. Terkait dengan bahan penyusunnya, tingkat konsumsi bahan bangunan utama RISHA dapat direduksi hingga hampir 50% dari konsumsi bahan bangunan untuk rumah konvensional. Sehingga, sekalipun kenaikan harga bahan bangunan terus terjadi, selisih harga antara RISHA dengan rumah konvensional tetap dapat mencapai 25%. Komponen struktur RISHA terdiri dari 3 komponen struktur, 3 komponen dinding, dan 3 komponen atap. Semuanya pabrikasi. Dengan ini, budaya masyarakat dalam membangun rumah yang dilakukan secara bertahap, dapat terakomodasi. Arief menggambarkan bila masyarakat dapat menyisihkan uangnya dalam 1 minggu sekitar Rp 100.000, mereka sudah dapat membeli 1 panel RISHA. Sehingga, dalam sebulan mereka sudah dapat memiliki 4 buah panel, dan dalam setahun mereka dapat memiliki 1 unit ruang 3 m x 3 m.

Kerja Sama UKM

Untuk menyediakan komponenkomponen penyusun RISHA, pemerintah bekerja sama dengan beberapa UKM di Bandung, Cilacap, Medan, Padang, Kalimantan Timur, dan DKI Jakarta. Secara umum, semua UKM tersebut masih berada di bawah bimbingan Puslitbang Permukiman. Namun Arief mengakui, masih ada sedikit kendala pada segi pemasaran. Pemasaran yang dilakukan oleh pihak UKM masih terbatas pada sistem “mulut ke mulut” dan belum ada upaya serius untuk mengemasnya.

Dengan modal di bawah Rp 100 juta (di luar tanah), UKM dapat memroduksi komponen untuk 1 unit RISHA tipe 36m². Dengan begitu, UKM juga memberikan penghasilan kepada para tenaga kerja mereka rata-rata Rp 100.000 per harinya (borongan). Dengan penghasilan sebesar itu, para tenaga kerja yang juga tergolong masyarakat berpenghasilan rendah akan mampu mendapatkan rumah layak huni. Desain RISHA yang begitu praktis memperluas peluang penggunaan teknologi instan tersebut untuk dijadikan beragam bangunan. Tak hanya rumah tinggal, teknologi RISHA dapat digunakan untuk membangun sekolah, poliklinik, kantor, gudang, bangunan ibadah, hingga gedung serbaguna. Bahkan, tak tertutup kemungkinan bagi para arsitek untuk mengkreasikan komponen RISHA menjadi elemen bangunan lainnya

Rumah Instan Kayu

Untuk melengkapi teknologi RISHA, Puslitbang Permukiman juga memproduksi tekologi RIKA (Rumah Instan Kayu). Kayu yang digunakan merupakan kayu dari tanamantanaman cepat tumbuh, seperti kayu sengon. Menggunakan bahan kayu tak lantas menjadikan RIKA cenderung ringkih. Kayu-kayu yang diperoleh kemudian diolah terlebih dahulu untuk meningkatkan kekuatan dan keawetannya. Dari segi konsep, RISHA dan RIKA dilatarbelakangi fi losofi dan tujuan yang sama. Yang membedakan keduanya hanyalah bahan dasarnya saja. Perbedaan bahan bangunan tersebut memberikan alternatif rancangan desain bagi konsumen dan arsiteknya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *