Categories
News

Pecahkan Rekor MURI

Untuk menutup tahun 2013, Akzonobel Indonesia melakukan sebuah pemecahan rekor Museum Rekor Indonesia (MURI). Dengan menyelenggarakan aksi pengecatan Gelanggang Olaraga Bekasi pada, 14 Desember 2013, pemecahan rekor ini melibatkan 500 peserta yang tergabung dalam “Mitra Dulux”. Pada acara ini, Akzonobel juga memperkenalkan palet warna putih yang menjadi unggulan dari Dulux Catylac. Warna “Putih 888” itulah yang digunakan untuk meremajakan tampilan Gelanggang Olahraga Bekasi. Pemilihan Gelanggang Olahraga Bekasi didasarkan pada kegunaannya yang cukup besar bagi masyarakat Bekasi. Diharapkan, dengan aksi pengecatan ini, gelanggang tersebut akan kembali pada masa jayanya. Jun De Dios, Direktur Utama PT ICI Paints Indonesia (Akzonobel Decorative Paints Indonesia), juga memaparkan bahwa dalam jangka waktu dekat, acara serupa akan diadakan di kota lain

Categories
News

Mendidik Wirausaha, Membantu Mereka Tumbuh Besar

Sebuah email masuk dari Ahmad Munawir, pembaca iDEA di Magelang. Ia merespon artikel tentang gerakan Optimistic Entrepreneur (#OPEN) yang dimuat di iDEA edisi Januari 2014 lalu, sekaligus menanyakan bagaimana kriteria untuk dapat bergabung dalam gerakan ini. Ahmad semula adalah seorang PNS, dan dengan latar belakang pendidikannya sebagai sarjana teknik sipil, juga membuka jasa usaha desain dan kontraktor bangunan. Pada bulan Juli 2013 lalu, setelah mengabdi 5 tahun sebagai pegawai negeri sipil di lingkungan Dinas Kesehatan, dan karena bercita-cita untuk mengembangkan usahanya semakin besar, Ahmad memutuskan untuk fokus kepada bisnisnya, dan memutuskan berhenti menjadi abdi negara. Sebagai sebuah gerakan, #OPEN berusaha untuk menemukan sebanyakbanyaknya, sosok-sosok seperti Ahmad Munawir ini. Mereka yang menggeluti dunia kewirausahaan, dan berkeinginan untuk mengembangkan usahanya secara lebih besar. Gerakan ini akan bekerja pada 2 area. Pertama adalah PENDIDIKAN bagi wirausaha (Entrepreneur Education) dan PENDIDIKAN bagi ekosistemnya (Ecosystem Education).

Pada 2 area tersebut, akan ada pendidikan yang sifatnya tak langsung. Bentuknya berupa artikel-artikel yang relevan untuk mendorong para wirausaha memperkuat kapasitas dan kemampuannya, atau berupa kegiatan langsung seperti workshop, pelatihan, seminar, dan semacamnya, yang diberikan oleh pakar, praktisi, dan ahli yang relevan dengan kebutuhan si wirausaha. Sesuai dengan kompetensi dan kapasitas Majalah iDEA, kami akan mengangkat dan mengekspos kegiatankegiatan usaha yang berhubungan dengan dunia bangunan, aksesori, dan pernak-pernik penghias rumah, dan segala sesuatu yang berhubungan dengan kreativitas menata rumah. Misalnya pada rubrik ETALASE di sebelah kiri halaman ini. Kami mengangkat usaha aksesori jam untuk hiasan rumah yang terbuat dari kain flanel.

Dengan mengangkat profil mereka, kami berharap ada pihak lain yang tertarik, baik sebagai konsumen, distributor, praktisi, pakar, yang dapat membantu usaha ini dapat berkembang lebih besar. Setiap rubrik yang melibatkan kegiatan kewirausahaan ini, kami akan menandai dengan logo Yes We’re OPEN, sehingga pembaca dengan mudah dapat mengidentifikasi bahwa rubrik ini merupakan bagian dari gerakan Optimistic Entrepreneur. Sekaligus kami akan mendata pemiliknya untuk dapat kami libatkan dalam program yang relevan. Nah, jika Anda adalah wirausaha yang berhubungan dengan semua keperluan atau ide kreatif seputar rumah, ingin tergabung dalam gerakan ini, ingin berdiskusi, atau bertanya lebih jauh tentang #OPEN, silakan kontak saya di alois@gramedia-majalah.com atau Twitter di @wisnuhardana. Saya tunggu.

Categories
News

Saat Maskapai Eropa dan Lokal Bertumbangan

Sejumlah maskapai penerbangan di Eropa dikabarkan telah menghentikan operasinya. Sebut saja Air Berlin, Alitalia, dan Monarch Airlines. Di tanah air, maskapai Kalstar Aviation juga mengalami nasib serupa. Apa yang sebenarnya terjadi?Re n t e t a n t u t u p ny a m a s k a p a i – ma skapai dalam beberapa bulan terakhir ini cukup membuat heboh pemberitaan. Seperti diberitakan Bloomberg (25/04/2017), terhitung sejak 2 Mei 2017, maskapai penerbangan nasional Italia, Alitalia mengawali jatuhnya maskapai-maskapai di Eropa tahun 2017 ini. Goyahnya maskapai berbiaya rendah (LCC) ini sudah mulai terdengar sejak Februari 2016. Saat itu, Alitalia mengumumkan akan membatalkan sebagian besar rutenya kecuali Olbia dan Roma pada akhir Maret 2016. Pada 25 April 2017, setelah karyawan Alitalia menolak usulan PHK (pemutusan hubungan kerja), ia mengumumkan akan mulai menjalani proses kebangkrutan.

Dan barulah pada 2 Mei 2017, pengajuan kebangkrutran itu diizinkan pemerintah Italia. Sementara itu, pada Oktober 2017 ini, dua maskapai Eropa, Air Berlin dan Monarch Airlines juga turut resmi mengudarakan penerbangan terakhirnya. Seperti diberitakan BBC (15/8/2017), Air Berlin mulai terombang ambing ketika pemegang saham utamanya, Etihad Airlines memutus dukungan dananya. Maskapai terbesar kedua di Jerman ini faktanya telah terlilit beban hutang selama satu dekade. Fenomena runtuhnya tiga maskapai besar Eropa berbiaya rendah ini menimbulkan isu kerasnya kompetisi maskapai-maskapai berbiaya rendah di sana. Seperti diketahui, maskapai penerbangan berbiaya rendah Eropa saat ini tengah dirajai oleh Ryanair dan Easyjet. Dua maskapai ini menawarkan tarif penerbangan mulai dari 10 poundsterling atau sekitar Rp 170 ribuan saja. Tdak hanya di Eropa, salah satu maskapai I n d o n e s i a j u g a b a r u s a j a m e n g a l a m i pembekuan operasi. Menteri Perhubungan B u d i K a r y a S u m a d i m e n g u m u m k a n p emb er hent ia n s ement a r a ma sk a p a i Kalstar sejak 30 September 2017.

Putusan itu dikeluarkan lantaran adanya masalah keuangan pada Kalstar. “Secara finansial negatif, makanya kami minta dihentikan sementara. Nanti kalau sudah recovery, kita akan minta audit, dan akan kami beri kesempatan untuk terbang lagi,” kata Budi Karya seusai acara Rakor Bidang Pariwisata Tingkat Nasional di DPP PDIP, Jakarta, Sabtu (30/9/2017). Meski demikian, Menhub memberi kesempatan Kalstar untuk berbenah diri. “Kami kasih waktu 3 bulan, ya paling tidak 6 bulan. Kalau equity-nya positif, kami berikan operasi kembali,” ujar Menhub. S e l a i n ke u a n g a n , K a l s t a r j u g a mengantongi masalah teknis dan operasional. Pemerintah menganggap beberapa hal dinilai tidak sesuai dengan prosedur operasi standar, yakni berkaitan dengan jumlah pesawat yang beroperasi, ketersediaan kru dan sumber daya manusia (SDM), serta pelatihan wajib.

“ K e w a j i b a n m e m e n u h i ke t e n t u a n peraturan keselamatan penerbangan sipil sangat berhubungan dengan kemampuan finansial suatu maskapai penerbangan. Hal inilah yang membuat Kalstar harus menyelesaikan audit keamanan seperti yang diatur dalam peraturan keselamatan penerbangan sipil (PKPS),” kata Dirjen Perhubungan Udara Kemenhub Agus Santoso (30/9/2017). S eb elumny a K a ls t a r s emp at mendatangkan armada baru pada 2015, yakni empat pesawat baru ATR 72-600 dan Embraer 195. Penambahan armada ini seiring rencana maskapai untuk menerbangi langsung rute Jakarta-Berau dan Surabaya- Berau

Categories
News

Pilot Nganggur di Indonesia Terus Menjamur

Isu banyaknya pilot yang menganggur kembali mengemuka. Kali ini, yang dituding menjadi biang keladinya adalah sekolah-sekolah pilot. Sejumlah wacana kontroversial yang berpeluang merugikan para pengelola flying school pun digagas oleh Kementerian Perhubungan untuk menanggulangi isu ini. Be b e r a p a w a k t u l a l u , M e n t e r i Perhubungan, Budi Karya Sumadi, m eng elua r k a n p er ny at a a n y a ng menggegerkan publik, khususnya para pemilik sekolah pilot (flying school) swasta di Indonesia. Ia menyebutkan ada 1.200 p il o t y a ng m e ng a ng g u r k a r e n a t i d a k memiliki kompetensi sesuai ketentuan yang diberlakukan oleh maskapai penerbangan nasional. Hal itu disampaikannya dalam Rapat Kerja Dinas Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan di Jakarta, Kamis (7/9). Budi Karya juga menyatakan banyaknya flying school di Indonesia yang jumlahnya mencapai 20-an menjadi salah satu penyebab “meledaknya” jumlah pilot yang menganggur tadi, dan banyak di antara flying school tadi tak memiliki fasilitas memadai. Ia lalu menyontohkan ada flying school yang hanya memiliki satu pesawat latih sehingga jam terbang siswanya sangat kurang. Padahal menurut Budi Karya, sekolah pilot minimal harus memiliki empat pesawat latih. Lebih lanjut, Budi Karya juga menyarankan jumlah flying school yang ada saat ini dimerger menjadi hanya 10 sekolah.

Ia pun telah meminta kepada Direktur Jenderal Perhubungan Udara untuk segera melakukan penggabungan sekolah-sekolah penerbangan yang ada . Budi Kar ya menilai langkah tersebut penting diambil agar sekolah memiliki kualifikasi yang baik sehingga mampu melahirkan calon-calon pilot yang berkompeten. Pernyataan yang disampaikan oleh Budi langsung menyulut reaksi bernuansa penolakan dari para pengelola flying school swa st a . Dan ber selang beberapa hari kemudian, Perkumpulan Institusi Penerbangan Indonesia/PIP21 (yang beranggotakan 13 flying school ) langsung melakukan press conference guna menyikapi wacana yang disampaikan oleh Budi Karya tadi, sekaligus mendeklarasikan berdirinya PIP21. Mereka membahas berbagai wacana yang telah dilayangkan pihak Kemenhub, mulai dari moratorium penerimaan siswa penerbang, peningkatan persyaratan pendaf taran siswa penerbang menjadi S1/D4, merger atau penyatuan antar-institusi pendidikan penerbang swasta, ketentuan kerjasama dengan maskapai sebelum membuka kelas baru, persyaratan kepemilikan pesawat, hingga pembatasan usia pesawat latih.

Kebijakan-Kebijakan Impulsif Regulator

Capt . Imron F Siregar selaku Ketua Dewan Pengawas IPI21, menyatakan bahwa surplus pilot yang sedang terjadi saat ini sebenarnya adalah hal yang normal sehingga tak perlu dibesar-besarkan. Malah, menurut Capt. Imron, justru kekurangan jumlah pilot lebih beresiko dan merugikan daripada pilot surplus. Terlebih, berdasarkan perhitungan dan prediksi IATA, angka pertumbuhan trafik penumpang pesawat di Indonesia bakal menempati posisi 10 besar di dunia pada tahun 2020 nanti, yang notabene tinggal tiga tahun lagi. Diperkirakan, bakal terjadi lonjakan pertumbuhan industri penerbangan pada tahun 2018-2020 nanti.

N a h , b i l a s a a t i n i p e m e r i n t a h mengeluarkan kebijakan impulsif, misalnya pengetatan regulasi, berupa pengenaan batas minimum jumlah pesawat latih, pengetatan persyaratan menjadi siswa sekolah pilot, maka bisa jadi negeri ini akan kekurangan pilot pada 2-3 tahun mendatang. “Dan bisa jadi pula nantinya pemerintah terpaksa akan membuka kembali keran penerimaan pilot asing. Kondisi seperti itu pernah terjadi pada tahun 1998-2012,” ujarnya. Capt. Imron menambahkan, di sekolahsekolah pilot di luar negeri pun, misalnya di Amerika Serikat, Malaysia, dan Australia, tidak ada pembatasan usia pesawat. Begitu juga soal kewajiban flying school memiliki s e j u m l a h p e s aw a t l a t i h . C a p t . I m r o n menegaskan tidak ada regulasi internasional yang menyatakan bahwa flying school bisa dibilang safety bila sudah memiliki minimal lima pesawat latih.

Serbuan Pilot Asing

Menurut Capt. Deddy Suparli selaku Kepala Sekolah Alfa Flying School, angka 1.200 pengangguran pilot itu adalah angka yang belum diverifikasi. Sebab, rata-rata setiap satu sekolah pilot hanya meluluskan s ek i t a r 10 or a ng p ilot mu da . D eng a n demikian, ia mempertanyakan darimana angka tadi muncul. Untuk mencari dari mana munculnya angka 1.200 tadi, Capt. Deddy lalu menengok ke tahun 2007 di mana saat itu negeri ini membutuhkan banyak pilot sehingga akhirnya banyak flying school bermunculan. Sayangnya, kata Capt. Deddy, ketika sekolahsekolah pilot tadi sudah menghasilkan para lulusan, banyak maskapai yang bangkrut, misalnya Mandala , Adam Air, Bat avia , Merpati, Buraq.

“ N a h p a r a p i l o t y a n g m e n t a l d a r i maskapai-makapai bangkrut tadi menyerbu maskapai-maskapai yang masih beroperasi. Maskapai-maskapai pun menerima para pilot ek s t adi k a rena dia ng g a p suda h berpengalaman. Akibatnya, keran untuk menerima pilot-pilot ab-initio tertutup oleh serbuan pilot eks tadi,” paparnya. Celakanya, Capt. Deddy melanjutkan, kondisi yang menyulitkan para pilot abinitio tadi diperparah lagi oleh serbuan pilot asing yang bersedia dibayar murah sehingga maskapai-maskapai pun lebih memilih menerima para pilot asing daripada pilotpilot lokal. Capt. Deddy juga menjelaskan bahwa p a r a p il o t a sing t a di b i a s a ny a s u d a h memiliki lisensi type rating, misalnya rating pesawat kecil Cessna Grand Caravan. Dan kebetulan type rating pesawat itu sangat jarang dimiliki pilot-pilot lokal. Maklum saja, untuk mendapatkan type rating pesawat Ce ssna Gr a nd C a r av a n, si pilot ha r us mendapatkannya di Wichita, Amerika Serikat. “Jadi wajar bila maskapai-maskapai lebih tertarik menerima pilot-pilot asing tadi,” ungkapnya.

Lulusan Lokal Kurang Berkompeten?

Anggapan bahwa lulusan flying school lokal yang dinilai kurang berkompeten juga dibantah oleh Capt. Deddy. Sebab, pada proses penerimaan siswa, ada beberapa proses selek si ya ng semua nya suda h ditetapkan oleh pemerintah, misalnya tentang poin minimal yang harus diperoleh calon siswa. Selain itu, Capt. Deddy juga membeberkan bahwa setiap siswa di flying school-nya telah menempuh enam kali ujian negara di bawah pengawasan Direktorat Kelaikudaraan dan Pengoperasian Pesawat Udara (DKUPPU), mulai dari tes radio, tes simulator, tes ground PPL, tes ground CPL, hingga tes terbang instrumen rating. Semuanya pun dilakukan di bawah pengawasan DKUPPPU. Merasa diperlakukan tidak fair, Capt. Deddy lalu mengajak pemerintah menengok kembali berbagai kebijakan yang selama ini dianggap kurang mendukung kegiatan flying school. Misalnya tentang kewajiban meminta izin untuk kegiatan terbang malam di Bandara Halim Perdanakusuma.

Tak lupa, Capt. Deddy juga menyinggung soal belum adanya lapangan terbang yang kondisi dan fasilitasnya sesuai dengan ketentuan yang ada dalam silabus, misalnya untuk terbang area, terbang sirkuit, terbang malam, atau terbang instrumen. Kalaupun ada, itu pun merupakan lapangan-lapangan terbang besar yang notabene ada di kota-kota besar dan digunakan oleh kegiatan bisnis airline. “Di Indonesia ini tidak ada sekolah pilot yang memiliki lapangan terbang sendiri. Yang berstatus negeri pun, misalnya STPI atau BP3, juga harus numpang ke lapangan terbang milik pihak lain,” tuturnya.